Semut dan Angin

Semut baru saja selesai membuat rumahnya di puncak pohon. Ia merasa senang dan puas dengan rumahnya.

“Akhirnya selesai juga. Siapa bilang, semut tak boleh membuat rumah di puncak pohon” ucap Semut dengan sombong.

Semut memang sengaja membuat rumah di puncak pohon. Hal itu bermula dari kawanan Gajah yang datang ke hutan. Ya, rumahnya hancur karena diinjak Gajah. Agar rumahnya tak dirusak Gajah Iagi, Semut membangun rumah di puncak pohon.

Sebenarnya kawanan semut sudah melarangnya membangun rumah di sana. Angin sedang bertiup kencang. Percuma membangun rumah di sana, karena rumahnya bisa terbawa angin. Tapi, Semut tak peduli. Keputusannya sudah bulat, ia tak ingin rumahnya hancur diinjak Gajah lagi.

Saat Semut hendak beristirahat di rumahnya, tiba-tiba angin kencang berhembus.
Wusssss!!!
Olala, rumah Semut terbawa angin dan hancur seketika. Semut merasa sangat kesal. Ia pun kembali membangun rumahnya. Sebelum petang, rumahnya sudah seIesai. Tapi ia takut, jikalau angin kembali menerbangkan rumahnya.

“Aku akan mengadang angin, Ialu berkata kepadanya agar tak sembarangan berhembus dan menghancurkan rumahku,” ucap Semut dengan mantap.

Tak Iama kemudian, angin berhembus lebih kencang. Semut tampak sudah bersiap mengadang angin di depan rumahnya. Namun, karena angin berhembus sangat kencang, tubuhnya yang amat kecil itu pun terbawa terbang, begitu juga dengan rumahnya. 

Semut pun menyesal. Andai ia mendengar nasihat kawannya, mungkin ia tak perlu repot-repot membangun rumah hanya untuk diterbangkan angin. Dirinya juga pasti tak akan turut diterbangkan angin.

Pesan Moral
Kawan, seseorang memberi nasihat, pasti demi kebaikan kita juga. Dengarkan nasihat orang-orang disekitar kita.