-->

Si Kelingking

Disuatu Desa, ada sepasang suami istri yang memiliki lima anak. Anak tertua bernama Ibu Jari, Kedua bernama Telunjuk, ketiga Tengah, keempat Manis, dan kelima Kelingking. Ibu jari adalah anak sulung yang rajin bekerja dan memiliki tenaga paling kuat. Ia sering pergi ke ladang bersama ibu dan ayahnya untuk menanam dan mencangkul.

Telunjuk adalah orang yang pintar dan sering menjadi penunjuk arah jika mereka berada di dalam hutan. Tengah adalah yang paling tinggi sekaligus baik hati dan suka menolong. Manis adalah yang tercantik dari mereka semua, sering menjadi pemandu tamu desa.

Terakhir adalah kelingking. Ia belum menemukan jati dirinya. Kelingking bertubuh kecil dan pendek. Ia tidak kuat, tidak pintar, serta tidak juga tampan. Ia anak yang manja dan sering sakit. Ia sering merasa tidak punya kelebihan dalam dirinya. Ia sering merasa cemburu pada kakak-kakaknya.

Suatu hari, Raja sedang mencari seseorang yang bisa mengambilkan pedang dari danau yang dipenuhi buaya raksasa. Jika ada yang bisa, orang itu akan dijadikan penasihat kerajaan. Pedang itu saat berarti bagi Raja. Pedang itu pemberian Ayahnya.

Namun, hanya sedikit orang yang mendaftar karena takut pada buaya raksasa. Buaya raksasa terkenal sangat kejam dan sulit ditaklukkan. Mendengat berita itu, kelingking bersemangat. Ia ingin menunjukkan kepada kedua orang tua dan saudara-saudaranya bahwa ia pasti memiliki kelebihan. Ia pergi tanpa memberi tahu mereka.
Begitu tiba di danau, Kelingking melihat seekor buaya raksasa tidur di danau. Buaya itu memeluk pedang. Kelingking yakin hawa itu adalah pedang yang dimaksud Raja. Kelingking mencoba berpikir cara mengambil pedang. Hingga akhirnya, buaya raksasa terbangun dan langsung marah saat melihat ada seorang pemuda kecil di depannya.

“Apakah kau juga suruhan Raja yang ingin mengambil pedang ini?” tanya buaya kasar.
“Aku adalah kelingking. Aku memang suruhan Raja,” kata kelingking jujur.
Melihat keberanian Kelingking, buaya raksasa menjadi kagum. Padahal semua yang datang kepadanya biasanya menyerangnya dengan cara licik, yaitu saat ia tidur. Namun, pemuda ini beda. Ia suka dengan keberanian pemuda kecil itu.

“Aku suka keberanianmu. Apa yang bisa kau lakukan padaku?” tanya buaya raksasa.
“Aku tidak punya apa-apa. Tapi, jika kau memberikan pedang itu kepadaku, aku akan meminta kepada Raja untuk melepaskanmu. Danau ini menjadi milikmu selama kau hidup. Tidak akan ada seorang pun yang akan mengganggumu,” ucap kelingking bijaksana.

“Baiklah aku setuju,” kata buaya raksasa, lalu memberikan pedang Raja.
Betapa senangnya hati Raja saat menerima pedang itu. Ia lalu mengangkat Kelingking menjadi penasihatnya.

Tak lupa, Kelingking menepati janjinya kepada buaya. Ia meminta kepada Raja agar tidak ada lagi yang akan mengganggu si buaya. Keluarga Kelingking yang baru saja tahu apa yang telah dilakukan Kelingking sangat bangga kepadanya. Mereka tidak pernah menyangka Kelingking mempunyai keberanian sebesar itu.


Nasihat :Kita harus selalu menjadi pemberani dan tidak boleh takut kepada apapun. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dalam dirinya.







Show Comments